Selasa, 01 Januari 2013

APAPUN YANG TERJADI, INDAH PADA WAKTUNYA (Babak 3)


#Babak 3

Dalang          :    Setelah kurang lebih satu minggu dirawat di  rumah sakit, kesehatan Bu Sukarni pun pulih, dan tibalah saat kepulangan Ibu Sukarni ke rumah.  Marilah kita langsung ke TKP...

Sumini           :    Bagaimana Bu Sukarni, sudah siap untuk pulang kembali ke rumah? Jangan lupa pesan-pesan saya. Minum obat dan istirahat secara teratur. O ya, jangan lupa seminggu lagi kontrol, ya Bu.
Bu Sukarni    :    Terima kasih banyak ya Dok. Kalau tidak ditolong Dr. Sumini tak terbayangkan bagaimana keadaan saya saat itu. Tuhan yang membalas segala kebaikan Dokter.
Sumini          :     Sama-sama, Bu. O ya, tidak ada anggota yang menjemput Ibu ya? Nanti biar Suster Nana dan Suster Vita yang akan antar keluar, 
Sust Nana    :     Mari Bu Sukarni, saya bawakan barang-barangnya. Kami akan antar Ibu sekalian cari taxi.
Sust Vita      :     Ini sisa obat-obatan Ibu selama dirawat di sini. Resep dokter sudah saya masukkan ke apotik rumah sakit, bisa diambil nanti obatnya.
Sumini         :      Hati-hati ya Bu Sukarni.
Bu Sukarni   :     Sekali lagi terima kasih ya Dokter. Saya tidak akan melupakan kebaikan Dr. Sumini selamanya. Tuhan juga memberkati Dr. Sumini.

Dalang         :     Sepeninggal Bu Sukarni, entah mengapa Sumini merasa kehilangan sekali. Ia menatap kepergian Ibu Sukarni sampai bayangan Ibu tersebut menghilang...
                           Pada saat bersamaan, datanglah Pak Kodri, Mas Budi dan Mas Imanuel, yang saat itu hendak chek up. Saat jalan berpapasan, Bu Sukarni ternyata terlebih dahulu mengenali mereka.

Bu Sukarni   :     Cak... Panjenengan, Cak Kodri?!
Pak Kodri       :   Leres Bu. Ngapunten, panjenengan sinten njeh?
Bu Sukarni     :   Boten kemutan kulo to, Cak?
Pak Kodri       :   Panjenengan sinten to? Mmm, kadose.... Pangapunten, napa leres  panjenengan... Yu Karni??...
Bu Sukarni     :   Leres, Cak. Sampun lami boten kepanggih njeh. Kados pundi pawartos panjenengan? Niki lare-lare panjenengan? 
Pak Kodri       :   Leres, Mbakyu. Sing ageng niki Mas Budi, lan sing alit niki Mas Imanuel... ( memperkenalkan anak-anaknya pada Bu Sukarni)  Bocah-bocah, ini Bude Sukarni, saudara sepupu ibu kalian. ( mereka pun saling bersalaman )
Bu Sukarni    :    Wah, sampun jaka sedaya njeh, Cak. Kapan mantu?
Pak Kodri      :    Masih belum mau kok, Yu...
Budi               :   Mau cari yang kayak Nikita Willy kok, Bude...Hehehe....
Imanuel         :    Kami ga mau terburu-buru, Bude. Kami sudah punya target minimal seperti Agnes Monica. Hehehe....
Bu Sukarni     :   Ya wis, yang penting jangan kelamaan... kuatir jadi bujang lapuk. Lah, malah rak payu to...hehehe....
Budi               :    Masih mau ngumpulin uang yang banyak dulu kok, Bude...hehehe...
Imanuel         :    Mau nyusun pondasi yang kuat dulu, Bude. Jangan kuatir, wajah-wajah ganteng seperti kami ini ga bakal ada yang nolak. Kalau nolak iya...hehehe... ( Bu Karni, Pak Kodri dan Budi pun ikut tertawa ) 
 Budi             :     Bude Karni, ada keperluan apa ke rumah sakit? Apakah mau menengok seseorang?
Imanuel        :     Iya, kok sendirian, Bu, ga ada yang menemani?
Bu Sukarni    :    Bukan menengok seseorang, tapi bude sendiri habis dirawat di rumah sakit ini karena kecelakaan, korban tabrak lari...
Pak Kodri      :    Ya ampun. Sekarang sudah tidak apa-apa kan, Yu?
Bu Sukarni    :    Sudah sembuh kok, dan ini mau pulang.
Budi              :     Mau kami antar, Bude?
Imanuel         :    Ga usah bayar, Bude. G R A T I S.      
Bu Sukarni    :    Terima kasih, bocah-bocah ganteng. Tidak usah repot, bude bisa pulang sendiri kok. Cak Kodri, kalau lihat anak-anakmu ini, aku jadi teringat sama anakku.  Anakku entah ada di mana sekarang... Waktu itu, hatiku benar-benar lagi hancur dan kecewa, karena suamiku, Mas Bejo, tiba-tiba meninggal karena sakit jantung. Aku langsung stres berat, dan anakku sendiri yang lagi kugendong saat itu, tanpa sadar aku taruh ke keranjang sampah! Saat itu aku benar-benar kehilangan kesadaran, kehilangan pegangan, sekaligus tempat bersandarku! Bahkan, aku lupa ingatan dan sempat dirawat selama beberapa tahun di rumah sakit jiwa. Setelah sembuh, aku mencari-cari anakku tapi selalu sia-sia. Akhirnya, aku menyerah.
Pak Kodri       :   Sampun Yu, tidak usah diingat-ingat lagi. Sekarang Yu Karni tinggal di mana?
Bu Sukarni     :   Sejak dulu sampai sekarang, aku masih tinggal di tempat yang sama, yaitu di rumah sakit jiwa. Tapi, kondisi saya yang berubah, sekarang saya bekerja sebagai tukang masak sekaligus tukang cuci di rumah sakit jiwa tersebut. Kalau ingat-ingat semua itu, aku sangat sedih, Cak. Aku tega dan sudah berdosa kepada anak kandungku sendiri. Aku benar-benar seorang  ibu kandung yang kejam, Cak... ( Ibu Sukarni menangis )....
Pak Kodri       :   Sudah, sudahlah Yu..., tidak usah disesali. Anakmu sudah ditemukan..!
Bu Sukarni     :   Be...benarkah, Cak? Anakku sudah ditemukan?!... Di mana sekarang anakku? Di mana? Aku ingin sekali bertemu anakku, Cak!
Pak Kodri       :   Tenang dulu, Yu...
                           Yu Genuk dan Mas Subur sudah menemukan anakmu itu, malah sekaligus memeliharanya. Tapi sayang sekali, Yu Genuk dan Mas Subur tidak berumur panjang, karena terkena bencana Tsunami.
Bu Sukarni     :    Aku ikut sedih, karena aku sangat berhutang budi pada mereka   berdua. (kembali Bu Sukarni menangis... )
Pak Kodri       :   Itu sudah Kehendak Tuhan, Yu. Yang penting, sekarang kamu dapat bertemu dengan anakmu. Ga usah kuatir, anakmu itu baik-baik saja kok, dan....
Bu Sukarni     :   Dan...apa, Cak?...
Pak Kodri       :   Dan anakmu itu sekarang ada di rumah sakit ini. Dia seorang dokter merangkap kepala rumah sakit ini...
Bu Sukarni     :    Aaa..pa?! Apa iya, Cak?! Benarkah, anakku seorang dokter?! Sekaligus  kepala rumah sakit ini?!.... Apakah... Dr. Sumini itu anakku? Benarkah, ia anakku yang sudah kubuang itu?  Benarkah?!....
Pak Kodri       :    Benar, Yu. Dr. Sumini itu anakmu. Temuilah dia sekarang...!
Bu Sukarni     :    Menemuinya sekarang?... Dan mengaku bahwa aku adalah ibu kandungnya yang telah membuangnya?!... O, tidak, aku malu, Cak! Dia itu seorang dokter yang sangat baik, sederhana dan pintar! Dia bukan hanya telah menolong, merawatku, tetapi ia juga telah menyumbangkan darahnya untukku. Ia telah menyelamatkan nyawaku! Ya, ampun Tuhan, apa yang harus kulakukan?!....
Budi               :    Bude harus segera menemui Mbak Sumini, supaya masalah ini cepat selesai.
Bu Sukarni     :   Pantaskah aku menemuinya?... Apakah anakku mau menerimaku sebagai ibu kandungnya?... Jangan-jangan, ia malah menolakku! Ini kesalahanku, kesalahan yang tak termaafkan oleh siapapun, apalagi oleh anak kandungku sendiri!  ( Bu Sumini menangis...) Aku sungguh menyesal. Aku minta ampun pada-Mu, Tuhan!...
Imanuel         :    Mari kami antar, Bude. Kami yakin, pasti Mbak Sumini kuat dan dapat dengan bijak menghadapi semuanya ini. Tuhan Yesus senantiasa memberkati pertobatan setiap anaknya, mengampuni dan sekaligus memulihkan hidupnya menjadi baru, yang lama telah hilang..! Percayalah, Bude!!...

Dalang           :   Saat yang bersamaan... Tampak  Dr. Sumini masih berada di tempat prakteknya dan bersiap hendak beristirahat makan siang dengan pacarnya, yang kebetulan seprofesi dengannya, yaitu Dr. Richard. Mereka kelihatan sangat serasi, sama-sama pintar, cakap, dan yang terpenting: seiman dalam Yesus Kristus! Pertemuan mereka pertama kali terjadi saat sama-sama masuk kuliah fakultas kedokteran UGM. Mereka telah berpacaran selama sembilan tahun, dan tak lama lagi, sekitar dua bulan lagi, mereka akan melabuhkan cinta mereka dalam sebuah bahtera rumah tangga.  Sebuah rumah kecil yang mungil dan indah di pinggiran kota,  serta sebuah kendaraan, adalah dua harta berharga yang sudah mereka miliki bersama dengan hasil kerja keras mereka berdua...
                           Ketika itu, mereka hendak keluar makan, tiba-tiba datanglah Bu Sukarni. Menyusul di belakangnya, Pak Kodri dan kedua putranya, Budi dan Imanuel.

Sumini           :    Lho, Bu Sukarni kok belum pulang? Ada yang ketinggalan, Bu? Bisa  saya bantu?
Bu Sukarni tidak segera menjawab, melainkan segera merangkul erat Sumini dan menangis...
Bu Sukarni     :   Maafkanlah ibu, nak! Ibu telah berdosa, ibu benar-benar telah  khilaf...huhuhu...
Sumini            :   Ada apa ini, Bu Sukarni kok tiba-tiba menangis dan minta maaf segala kepada saya. Ibu tidak salah apa-apa kok... Jadi Ibu tidak perlu meminta maaf kepada saya....
Bu Sukarni     :   Indah? Kamu Indah Sumini kan?? Kamu, anak ibu, nak! Maafkan ibu,  ibu telah khilaf dengan meninggalkanmu di tong sampah. Waktu itu  Ibu benar-benar stres, bingung, sebab saat itu ayahmu tiba-tiba meninggal karena sakit jantung....
Sumini           :    Ibu?!... Benarkah, Ibu Sukarni ini ibu kandung saya??! Mana mungkin, Bu??...(ISumini memandang heran pada ibu dan Pak Kodri bergantian, seakan meminta jawaban atas kejadian tak terduga ini... )
Pak Kodri       :    Benar, Nak Sumini. Puji PTuhan! Kita bertemu di sini, dan ini bukan suatu kebetulan, pasti ada rencana Tuhan yang indah untuk kita semua, terutama... untuk Yu Karni dan Nak Sumini! 
   
                     Sumini masih bengong, tak percaya sambil menatap Bu Sukarni, yang mengaku sebagai ibu kandungnya itu...

Bu Sukarni    :    Anakku, mungkin kamu tak percaya kalau aku adalah ibu kandungmu. Ibu memakluminya, nak. Ketika berpisah dengan ibu, kamu masih sangat kecil, berumur sekitar dua tahun. Ibu harap kamu mau memaafkan ibu, nak... Jika tidak pun, ibu pun bisa memahami perasaanmu, ibu ikhlas menerima semua ini....

                      Dalang          :    Mendengar semuanya itu, Sumini serasa tak tahan lagi untuk kembali memeluk ibu kandungnya, dan tak lama kemudian pecahlah tangis keduanya... ibu dan anak kandungnya, Bu Sukarni dan Sumini....diikuti rasa keharuan orang-orang terkasih yang ada di dekatnya...

Sumini           :    Lupakan semuanya itu, Bu. Mini memaafkan Ibu. Puji Tuhan! Sumini senang sekali bisa bertemu dengan ibu. Sumini sudah berdoa bertahun-tahun, dan akhirnya kini Tuhan Yesus telah  mempertemukan kita lagi di saat yang tepat...

Dalang           :    Indah Sumini sebagai dokter telah bertemu dengan ibu kandungnya, ibu Sukarni yang sebelumnya adalah  pasiennya... Sungguh luar biasa dan ajaib perkerjaan Tuhan dalam kehidupan umat-Nya!  Oh ya Bu, perkenalkanlah ini calon suami saya, Bu...(Sumini segera menggandeng tangan Richard untuk diperkenalkan pada ibunya )
Bu Sukarni    :     Calon suami? Ganteng tenan, yo nduk pinter milih kowe... Kapan kalian akan menikah?
Sumini           :     Siapa dulu yang milih, Sumini.... Hehehe....Kami sudah berpacaran selama sembilan tahun... dan dua bulan lagi kami akan menikah, Bu...
Richard         :     Perkenalkan nama saya, Richard, Bu. Kami sungguh bersyukur dan senang sekali bisa berjumpa dengan Ibu. Ini adalah saat yang paling tepat, di mana saat kami hendak menikah, Ibu Karni telah datang. Hal ini tentu saja akan semakin menyempurnakan kebahagiaan hidup kami. Kami mohon doa restu dari Ibu...
Ibu Sukarni    :    Puji Tuhan!  Tuhan memberkati kalian berdua!   
Semua           :    Amin.

Dalang            :   Betapa sukacita Tuhan begitu terpancar dari semua mata sekaligus hati mereka. Ya, mereka semua sangat bahagia dan bergembira saat itu.  Bu Sukarni dan Sumini pun  kembali saling melepas rasa rindu mereka dengan berkali-kali saling berpelukan dan mengalirkan air mata berhiaskan mutiara sukacita, bahagia...

Dalang           :   Tuhan Yesus selalu memikirkan segala yang terbaik bagi anak-anak-Nya yang senantiasa percaya kepada-Nya. DIA selalu menjagai, memelihara dan menyertai kita semua, baik dalam suka maupun duka. “...Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan... Segala perkara  dapat kutanggung di dalam DIA yang memberi kekuatan kepadaku... Allahku akan memenuhi segala keperluarmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus...” DIA-lah SUMBER KEBAHAGIAAN! Dan, Rencana Tuhan selalu indah pada waktunya! Puji Tuhan! Amin. J

SEMUA         :   BUAH SEMANGKA MANIS RASANYA...
                          OPOR AYAM ADA DI DEPAN MATA...  
                          SEKIAN LAMA KITA TAK JUMPA...
                          OPERA VAN S.T.B.I. 2011 TAK KAN TERLUPA!!!...


Para sinden dan semua pendukung acara menyanyikan lagu ‘Indah Pada Waktunya”...

Indah Pada Waktunya
Ada waktu tuk berduka
Ada waktu tuk bersuka
Ada waktu tuk berdiam
Ada waktu tuk berkata
Namun di atas sgalanya
Ku tau Allahku bekerja
Mendatangkan kebaikan
Bagi yang mengasihiNya
Disaat yang ku alami
Tak seperti yang kuingini
Disaat tiada jawaban
Mengapa harus terjadi

Namun di atas sgalanya
Ku tau Allahku bekerja
Mendatangkan kebaikan
Bagi yang mengasihiNya

Mungkin tak kupahami
Apa yang kini aku alami
Namun ku tau pasti
Kasih Allahku takkan berhenti
Kan ku srahkan semua
Pergumulanku padaMu Yesus
Karna kutau pasti
Semuanya kan jadi
Indah pada waktuNya






                                   KEEP DOING BEST! JESUS LOVES & BLESS US! AMIEN.
******Selesai*******












Para pendukung acara ini sbb. :

2 orang dalang ( bergantian )
4 orang sinden
Sumini
Bu Sukarni
Richard
Pak Kodri
Budi
Imanuel
Pdt. Santoso
Dr. Janri
Victor
Jesica
Yanto
Suster Ani
Suster Riana
Suster Nana
Suster Vita
Andi

APAPUN YANG TERJADI, INDAH PADA WAKTUNYA (Babak 2)


#Babak 2

Dalang        :    Semua hal nampak kurang baik bagi Sumini pada awalnya. Akan tetapi, tidak disangka Yesus telah mengatur segalanya tanpa bisa diduga. Dengan pertolongan Tuhan, Sumini menjadi dokter dengan predikat lulusan terbaik dan ia pun ditempatkan di poli umum di sebuah rumah sakit di Jakarta. Berikut ini, salah satu   kesibukannya sebagai seorang dokter... Siang itu, dengan tergopoh-gopoh, masuklah seorang suster masuk ke ruang praktek Dr. Sumini...

Suster Ani   :   Dokter Sumini, ada seorang pasien wanita, namanya Bu Sukarni, korban kecelakaan tabrak  lari, saat ini dalam keadaan kritis dan membutuhkan transfusi darah B-. Pihak keluarganya tidak ada.  Celakanya, stok darah B- di PMI kosong, Bagaimana ini Dokter? Kita harus cari donor darah ke mana lagi, sedangkan waktunya begitu mendesak??...

Sumini        :    Darah yang dibutuhkan B- kan? Kebetulan golongan darah saya sama dengan pasien , segera persiapkan segala sesuatunya, karena kita sudah tidak punya banyak waktu lagi!... ( Suster Ani terkejut mendengar semua itu. Dr. Sumini mau menyumbangkan darahnya ke pasien yang  sama sekali tidak dikenalnya? ) ... Ayo, tunggu apa lagi?! Kok malah bengong... Cepat lakukan apa yang saya perintahkan, karena kita tidak punya banyak waktu!...
Suster Ani   :    Ba..Baik, Dokter! Saya akan segera mempersiapkan segala sesuatunya.

Dalang        :   Segera proses transfusi darah secara langsung pun dilakukan. Saat proses transfusi darah berlangsung, entah mengapa  ketika Sumini melihat wajah Bu Sukarni, yang sedang menerima transfusi darah darinya itu, hatinya merasakan kenyamanan dan kedamaian sukacita yang berbeda. Ada apa ya? Tidak biasanya begini. Apakah karena ia telah menolong Ibu Sumini dengan mentransfusikan darahnya? Atau, apa ya...? Sulit untuk mengungkapkannya...

Dalang      :   Setelah proses transfusi darah, Sumini pun masih sempat mengontrol kesehatan Ibu Sukarni, yang masih belum sadarkan diri. Dia memandang kembali wajah Ibu Sukarni. Sepertinya usia ibu Sukarni  sama dengan ibu kandungnya, yang pergi entah kemana. Selama ini dia terus merindukannya dan berdoa pada Tuhan Yesus untuk dapat dipertemukan dengan ibu kandungnya. Sampai pada akhirnya, Sumini sudah berserah pada Tuhan. Sumini hanya mendoakan agar ibunya bahagia...

Dalang         :   Sumini duduk di sebelah pembaringan ibu Sukarni, ia pun merasa kasihan kepada orang tua tersebut. Dipandanginya lagi wajah Ibu Sukarni. Dalam keadaan sakit seperti ini kok tidak ada satu pun keluarga yang peduli, apalagi menemaninya. Tanpa disadari, Sumini pun  teringat kembali pada ibu kandungnya...

Sumini        :    Andai,  ibu kandungku masih hidup, pasti seumur dengan ibu Sukarni. Usiaku kini sudah 28 tahun. Namun, tidak pernah sekalipun aku bertemu dengan ibu kandungku. Di manakah ibu kandungku? Apakah masih hidup...ataukah sudah meninggal??... Ya Tuhan, berapa lama lagikah hambaMu ini harus menunggu?... Berbagai kesibukan telah menyita waktu, namun tak jua terlupakan... Maafkan aku, ya Tuhan... Hati ini sudah begitu rindu... kangen sekali ingin bertemu dengan ibu  kandungku... ( Sepasang mata indah Sumini mulai berkaca-kaca...)

Para sinden  menyanyikan lagu “Apapun yang terjadi”...

Apapun yang Terjadi

Apapun yang terjadi di dalam hidupku,
ku selalu berkata Tuhan Yesus baik.
Dalam segala hal yang terjadi,
tetap ku berkata Tuhan Yesus baik.
Ku sembah Kau, Ku sembah Kau....
Tak dapat ku membalas KasihMu.
Ku sembah Kau, Ku sembah Kau, Bapa.
Ku rindu selalu menyenangkan-Mu.

Saat dalam kegalauan itulah, kemudian masuklah suster Riana menemui Dr. Sumini untuk mengingatkan bahwa Seminar Kesehatan akan segera dimulai.
Sust  Riana  :   Dokter Sumini, Seminar Kesehatan akan segera dimulai, dan para peserta sudah memenuhi ruang aula.  
Sumini         :   Apakah bahan seminar saya sudah ditaruh di sana?
Sust Riana  :   Sudah, Dok.
Sumini         :   Ok, terima kasih Sus Riana. Sebentar lagi saya akan segera ke sana.        Tolong ganti botol infus Ibu Sukarni ini ya, karena sudah mau habis.
Sust Riana   :   Baik, Dokter.
Sumini          :  Terima kasih.

Dalam perjalanan menuju ke ruang aula, tempat seminar akan berlangsung, Dr. Sumini bertemu dengan Bpk. Pdt. Santoso...
Sumini         :   Shalom Bpk. Pdt. Santoso. Apa kabar?
Pdt Santoso:   Shalom... Puji TUHAN! Baik, bagaimana kabarmu? Pacarmu, si... Richard, juga ikut mengisi seminar ini kan?
Sumini         :   Saya baik-baik saja, Pak Pendeta. Mas Richard tidak jadi ikut sebagai pengisi seminar, karena mendadak ada pasien yang harus ditangani segera di ruang  I.C.U.
Pdt. Santoso:  Terus yang menggantikannya sudah ada kan?
Sumini         :   Sudah ada, yaitu Dr. Janri.
(Pdt. Santoso tersenyum mendengar itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya )
Dalang         :  Tak lama, sampailah mereka di ruang aula, tempat para peserta seminar sudah menunggunya.  Ketika sampai di ruang seminar, Sumini pun mempersilahkan Bpk. Pdt. Santoso duduk di kursi para pembicara  seminar, sejajar dengannya dan Dr.Janri. Mereka pun saling bersalaman, dan acara seminar pun dimulai...

   Dalang        :   Dr. Sumini pun segera membuka acara Seminar Kesehatan tersebut. Acara Seminar Kesehatan berjalan dengan lancar dan sukses. Ada banyak peserta seminar tersebut yang bertanya dan ikut terlibat sesuai topik pembicaraan saat itu. Namun, diantaranya ada kejadian unik yang terjadi ketika ada salah seorang yang bertanya...

Victor           :   Dr. Sumini, saya mau tanya. Berapa nomor hp Dokter?
Seketika semua peserta seminar itu pun tertawa, dan Dr. Sumini pun tersenyum mendengar pertanyaan lucu seperti itu. Demikian juga dengan Bpk. Pdt. Santoso dan Dr. Janri.
Dr. Janri      :   Tolong sebutkan nama, dan sebutkan keperluan Anda menanyakan nomor hp Dr. Sumini.
Victor          :    Nama saya Victor. Ya siapa tahu saya pengin curhat kan bisa telpon Dr. Sumini...
Andi            :    Kamu apa ga takut dipukul pacar Dr. Sumini. Curhat jangan sama dokter. Kalau curhat sama Pak Pdt. Santoso, baru benar... Iya kan Pak San?
Pak Pdt. Santoso menanggapinya dengan tersenyum.
   Victor          :    Lho Dr. Sumini sudah punya pacar to, saya kan ga tahu. Tapi, kata orang bijak: selama janur belum melengkung, masih ada kesempatan mendekati seseorang yang kita sukai. Betul ga teman-teman...
Kembali peserta seminar seluruh isi ruang aula pun tertawa.

Jesica dan Yanto, yang merupakan teman-teman Victor pun, memberi isyarat dengan menyikut tangan Victor agar jangan berkata lagi. Mereka pun berusaha mengingatkan Victor...
Yanto          :    Victor, sudah jangan ngomong lagi. Kamu ini malu-maluin saja. Tanyalah berdasar materi seminar saja. Jangan malah ngelantur, tanya lain-lain di luar konteks!
   Jesica         :    Malu-maluin tahu! Kapan-kapan, aku ga mau ikut, kamu pergi sendiri saja.
Victor          :    Lho, jangan seperti itu to. Kalau aku mbok tinggal, terus aku gimana?
Jesica           :    Ya mboh, ga tahu! Sebel aku sama kamu! Dasar playboy cap tikus!
Yanto            :    Udah, udah... Dilihatin banyak orang lho...

Pdt. Santoso :    Sdr Victor, kalau Anda ingin curhat boleh hubungi saya. Kapan pun saya terbuka untuk dicurhatin, nonstop 24 jam. Anda bisa curhat tentang apa saja.Apakah tentang cinta, kuliah dan lain-lain? Monggo... Jangan kuatir. Nanti setelah ini, Anda bisa  bertemu dengan saya. Ok. Saudara-Saudara, kita akhiri Seminar Kesehatan ini sampai di sini dulu. Terima kasih atas partisipasi Anda semua. Tuhan memberkati.                        :