Oleh: Dewi Lisiani Kurniawan Sugiarto
Sore hari yang indah, ketika itu Mimi hendak membeli snack untuk camilan di kala senggang. Saat itu di lantai dasar mall CHAYA CHAYA ada terlihat beraneka macam makanan kecil. Wow….banyak banget macamnya, dan enak-enak semua tampaknya! Pilih sana pilih sini, selintas kelihatan ada yang berwarna putih, terus bentuknya bulat panjang.. Yah, ga salah lagi, itu kan widaran… kesukaan mamanya. Si mbak penjual makanan itu pun menambahkan, *Ini widaran enak, manis lho, Mbak." Yem, yem ..Yummy! Hehehe… langsung saja Mimi mengambil widaran tersebut dan membayarnya. Sembari berjalan cepat pulang ke rumah, Mimi membayangkan betapa senangnya mamanya nanti saat melihat ia membelikan widaran, makanan kesukaan mamanya itu.
Begitu sampai di rumah, Mimi langsung mencari mamanya sambil memanggil, "Ma…Ma…Mama…Mimi belikan widaran untuk Mama…..!" Aneh, kok tak ada jawaban… Situasi rumah kala itu memang ga sebagaimana biasanya, sepi.., tak ada suara TV, atau radio yang terdengar… Sekali lagi Mimi berseru, "Ma..Mama….Mama di mana sih? … Mimi bawakan widaran Ma…!" Belum juga ada jawaban... Mimi sudah berusaha mencari di tiap ruang rumahnya, ternyata tidak ada seorang pun ada di sana. Papa, mama, di mana mereka?... Saat kebingungan itulah, sekilas mata Mimi melihat ada selembar kertas catatan kecil di meja ruang tamu. Segera diambil dan dibacanya kertas itu: "Mimi, mama sakit… Kamu hati-hati di rumah ya… Jangan kuatir, papa lagi antar mama ke rumah sakti Medika. " Mimi terdiam sejenak,,, kaget, dan bingung. Tanpa disadarinya, dari sudut kedua matanya keluar air mata,,. Hatinya pun sedih,,,"Mengapa ini terjadi?... Mengapa, ketika aku sudah mendapatkan pekerjaan, walau dengan gaji kecil, dan aku berusaha untuk menyenangkan hati mama, malah terjadi hal seperti ini..?" Kemudian, tak berapa lama tanpa berpikir lama lagi, Mimi segera bergegas pergi menyusul ke rumah sakit, tak sabar ingin melihat keadaan mamanya.
Setiba di rumah sakit MEDIKA, Mimi pun segera bertanya ke petugas bagian informasi tentang di mana mamanya dirawat. Betapa terkejutnya, ketika melihat kondisi mamanya yang sedang tergeletak lemas di salah satu bangsal ruang UGD ( Unit Gawat Darurat ) rumah sakit tersebut. Terlihat tangan kanan mama diinfus, hidungnya diberi alat bantu pernafasan. Mama sedang tertidur… Dengan perlahan-lahan, Mimi menghampiri mamanya, tak ada seorang pun di ruangan itu. Di mana papa?... Mimi menatap wajah mama dengan hati sedih, " Apa yang sedang dialami mama?... Apa penyakit mama?... Apakah karena mama terlalu capek?..." Ya, memang selama dua minggu terakhir ini pekerjaan mama menumpuk, banyak pesanan jahitan yang membutuhkan penyelesaian segera. Tak dapat disangkal, kebutuhan kontrak rumah yang jatuh temponya mau habis, sangat menguras tenaga dan pikiran mama untuk dapat membantu papa melunasinya. Maklum, pendapatan papanya juga minim, sebagai salesman produk keperluan rumah tangga. Mimi sendiri pun yang baru masuk kuliah semester pertama di salah satu universitas, tak mau berpangku tangan melihat kondisi keuangan kedua orang tuanya tersebut. Ia pun diam-diam telah berusaha melamar berkerja ke sana sini, dan akhirnya ia pun diterima sebagai pramuniaga di sebuah toko kosmetik, Dan, hari itu merupakan hari pertama ia menerima gaji pertamanya, yang mana hendak diberikannya kepada orang tuanya… Sambil tetap memegangi bungkus widaran kesukaaan mamanya, Mimi masih memandangi wajah mamanya yang terlihat pucat. Kembali air matanya menetes dari sudut kedua matanya, tak tega melihat keadaan mamanya sebagaimana yang disaksikannya saat ini. Oh ya, ia kembali teringat,"Di mana papanya saat ini?..." Mimi mencoba untuk tidak terlarut dengan berbagai pertanyaan, atau pun kekuatiran yang berkecamuk dalam hati maupun pikirannya. Ia pun berdoa: "Ya Tuhan, terima kasih untuk semua yang sudah Engkau berikan kepada kami, Kasihanilah kami orang berdosa ini, ampunilah segala dosa dan kesalahan kami. Mohon, Engkau tolong dan lawat keluarga kami, khususnya mama, yang saat ini tengah terbaring sakit. Kami yakin, Tuhan mampu menyembuhkan segala sakit mama. Kami percaya kepadaMu ya Tuhan! Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami beryukur dan berdoa. Amin!" Saat berkata amin itulah, terdengar ada orang lain yang turut pula mengamini doanya. Tak salah, itu papa… yang saat ini sedang berdiri di belakangnya, "Pa…papa tadi ke mana sih? Kok Mimi cari dari tadi ga ada?... Mama sakit apa, Pa?"
"E, sabar dululah kau, jangan bertanya beruntun seperti itu! Bagaimana papa bisa menjawabnya? Sabar sedikitlah..," kata papanya.
"I-iya maaf, Pa… Mimi ingin segera tahu, sebenarnya mama itu sakit apa sih, kok tiba-tiba masuk rumah sakit?..."
"Begini, Mimi. Mama kamu sebenarnya beberapa lama ini sudah merasakan bagian dada sebelah kirinya sakit, tapi berhubung tak ada biaya untuk check up, ya ga ketahuan-lah kalau ternyata mama punya sakit jantung."
"Apa? Mama punya sakit jantung?!... Terus, apa kata dokter tentang kondisi mama sekarang ini, Pa?!..."
"Kata dokter, mama perlu dirawat di sini beberapa hari, dan saat ini mama membutuhkan obat-obatan yang sangat mahal untuk menolong jiwanya. Makanya dari tadi papa sibuk mencari pertolongan sana sini, dengan menelpon saudara-saudara, teman-teman papa… Tapi, sepertinya sia-sia saja, karena mereka pun tak punya uang cukup untuk dapat membantu kita, dengan alasan bisnisnya lagi turun, uang untuk bayar sekolah anak, dan lain sebagainya…. Yah, bagaimana lagi…papa juga bingung…" Mimi melihat jelas rasa letih dan putus asa dari raut wajah sang papa. Bagaimana ya?!... Apa yang harus kulakukan untuk menolong mama, dan juga papa?... Pikiran Mimi pun kembali berkecamuk… Air matanya pun kembali hendak meleleh, tapi…, "Eits, aku tidak boleh terus-terusan menangis seperti ini!" katanya menyemangati dirinya sendiri. "Aku harus bertindak cepat kali ini, demi menyelamatkan nyawa mamaku!" Maka, ia pun segera memalingkan wajahnya dengan cepat mengusap air matanya, supaya tak terlihat oleh papanya. Dengan berusaha tetap tegar, Mimi segera berkata pada papanya," Papa jangan kuatir ya! Jika tak ada seorang pun yang dapat menolong kita, tetaplah percaya bahwa: Tuhan pasti sanggup menolong kita! Yakinlah, Pa! Mimi mau pamit pergi sebentar ya, Pa. Karena ada yang harus Mimi kerjakan saat ini, tapi Mimi akan segera kembali kok. Tolong sampaikan salam sayang Mimi untuk mama." Papanya mengangguk. Sebelum pergi, Mimi terlebih dulu mencium pipi dan merangkul papa tercintanya, seolah ingin memberi ketenangan kepada papanya.
Dengan penuh semangat Mimi melangkahkan kakinya menuju pintu keluar rumah sakit itu. Ia segera teringat dengan sepeda motor bekasnya yang baru dibelikan orang tuanya, dan perhiasan anting-anting yang sedang dipakainya saat ini. Mimi mencoba mengingat-ingat apa lagi barang berharga kepunyaannya selama ini. O ya, uang gaji pertamanya, dan…mm ya, ia teringat sesuatu… Ia langsung merogoh saku bajunya dan… mengeluarkan ponsel kesayangannya, kemudian mengamatinya untuk beberapa saat… Sebenarnya, ia masih sayang ponselnya tersebut. Ada dua pertanyaan yang terlintas di pikirannya," Mau pilih pertahankan ponsel kesayangannya? … Atau, memperjuangkan keselamatan nyawa mamanya?!..." Mimi tak berpikir panjang lagi, ia segera mengambil keputusan. Ia masih teringat dengan kondisi mamanya yang tengah tergolek lemah tak berdaya di pembaringan rumah sakit. Mimi segera menuruti suara yang positif, yaitu suara Tuhan! Ia harus segera menyelamatkan nyawa mamanya! Untuk itu, ia harus bertindak cepat dan segera menjual barang-barang berharga kesayangannya itu. Tak ada yang dapat menghalanginya lagi, tekadnya sudah bulat! Mimi telah menetapkan pilihan yang benar: Keselamatan orang terkasih seperti mama, melebihi segala kesenangan duniawi apapun di dunia ini!
Niat baik yang dilakukan dengan ketulusan, belum tentu mendapat respon yang baik dari lingkungan. Kali ini Mimi harus kembali menerima cobaan. Saat selesai menjual sepeda motor bekas dan barang-barang berharga lainnya, dan ia hendak naik bus. "Ups…aduh…!" serunya, Mimi jatuh tersungkur. Rupanya ada seseorang yang mengendarai kendaraannya dengan kencang dan hampir menabraknya. Tak ada seorang pun yang menolongnya saat itu. Anehnya, mereka yang melihatnya saat jatuh pun, cuma sekedar memandangnya. Ia berusaha untuk bangkit sendiri, dan mencoba untuk berjalan walau sakit sekali,"Aku harus bisa berjalan, dan aku harus secepatnya mengantar uang ini ke rumah sakit MEDIKA." Saat menahan kesakitannya itu, Mimi bertemu dengan beberapa temannya, yang sedang berjalan-jalan…
"Hei Mimi, ngapain kamu jalan kaki?!... Motormu ada di mana?!... Dijual ya?!... Hahaha…. Sayang sekali, motor bagus-bagus kok dijual… Makanya, lain kali kalau ga punya duit, ga usah sok punya motor segala… Malu-maluin aja! Rasain lu sekarang, jalan kaki nih ye… Hahahahaha….."
Melihat perlakuan mereka yang tidak sepantasnya itu, Mimi hampir tak bisa menahan diri, kalau tak teringat mamanya lagi sakit, ia pasti sudah membalas penghinaan mereka tersebut. Namun, ia berusaha sekuat tenaga mengendalikan dirinya, dan mencoba mengacuhkannya. "Tak ada gunanya aku menanggapi mereka. Yang terpenting, saat ini yang harus aku lakukan adalah sesegera mungkin dapat menolong menyelamatkan nyawa mamaku! Tuhan, tolong kuatkan hambaMu ini!"serunya dalam hati, menyemangati dirinya sendiri. Ia sudah siap hadapi apapun, termasuk siap untuk kembali naik angkutan kota seperti dulu. Tak ada penyesalan, walau kini tanpa kendaraan, ponsel maupun perhiasan. Hanya satu pengharapan yang ada saat itu,"Aku harus segera serahkan uang ini, dan selamatkan mama!"
Sesampai di rumah sakit MEDIKA, bersama sang papa, ia pun segera menyerahkan semua uang itu ke pihak rumah sakit tersebut untuk segera menyelamatkan jiwa mamanya.
Sungguh indah walau tidak mudah: Sesungguhnya, segala upaya yang telah dilakukan dengan tulus dan sikap hati berserah penuh pada Tuhan, tak akan pernah sia-sia! Selang beberapa lama kemudian, keajaiban itu sungguh terjadi. Puji Tuhan! Jiwa mama Mimi pun tertolong, dan keadaan kesehatannya pun semakin membaik! Menyaksikan keajaiban ini, ada rasa damai tak terlukiskan, dibarengi sukacita yang tiada tara, indah dan secara pelan namun pasti mengisi relung hati dan jiwa Mimi dan papanya! Nyanyian sorgawi serasa mengalun indah di kala dapat melihat mama membuka matanya dan tersenyum kembali untuk CINTA! Mimi segera mencium kening sang mama dan berbisik lembut: "Mama sayang, cepat sembuh ya! ... Eits, jangan lupa ada widaran manis lho, Ma! Deng, deng, deng…." Mimi segera memperlihatkan bungkusan berisi widaran, yang sejak tadi berada dalam genggaman tangannya itu, kepada mamanya tersayang. Derai tawa mereka pun, berikut sang papa, segera menambah keceriaan, seiring semakin merekahnya senyuman indah dan rasa bahagia sang mama. JIKA TETAP BERJALAN BERSAMA TUHAN, SEMUA AKAN INDAH TEPAT PADA WAKTUNYA!!! AMIEN.